Meninggalkan Sholat Jum’at Murtad?

Posted: 3 Agustus 2010 in Meninggalkan Sholat
Tag:

Sebagian kaum muslimin ada yang meninggalkan shalat Jum’at karena sikap meremehkannya serta lengah untuk menjunjung tinggi syi’ar-syi’ar agama Allah, yang dalam hal itu Dia telah menyatakan dengan firman-Nya:

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang-siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar agama Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]

Dan hendaklah orang yang suka mengabaikan shalat Jum’at mengetahui bahwa dengan demikian itu dia telah melakukan perbuatan dosa besar sekaligus kejahatan yang besar. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengadzabnya dengan mengunci mati hatinya, sehingga dia tidak akan pernah tahu suatu kebaikan dan tidak juga dapat mengingkari kemungkaran. Dia pun tidak akan pernah merasakan nikmatnya Islam serta tidak pula merasakan manisnya iman.

Hadits Nabi SAW:
Dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah, bahwa keduanya mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas kayu mimbar beliau, “Sungguh kaum-kaum itu mau menghentikan dari meninggalkan Jumat atau (kalau nekad) Allah pasti akan menutup hati mereka, kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim juz 2, hal. 591)

Dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasululllah SAW bersabda “Barangsiapa yang meninggalkan Jumat tiga kali bukan karena berhalangan, maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 430)

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata: Peliharalah dengan baik lima shalat ini KETIKA DIKUMANDANGKAN ADZAN, karena lima shalat JAMAAH itu termasuk diantara beberapa jalan petunjuk. Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan jalan-jalan petunjuk kepada Nabi-Nya SAW. Sungguh kami benar2 ingat, bahwa TAK SEORANGPUN yang MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH, KECUALI ORANG MUNAFIK YANG JELAS KEMUNAFIKANNYA. Sungguh kami ingat, bahwa seseorang itu dituntun antara dua orang dikanan kirinya, sampai dia diberdirikan dalam shaf shalat. Tak ada seorangpun diantara kamu, kecuali mempunyai masjid (tempat shalat) didalam rumahnya. Seandainya kamu mengerjakan shalat dalam rumahmu, lalu MENINGGALKAN MASJID-masjid kamu, berarti kamu telah meninggalkan sunah-sunah nabi kamu, dan jika kamu telah meninggalkan sunah nabi kamu, pasti kamu TELAH KAFIR (Shahih Abu Daud, dan Shahih Muslim dg lafazh ‘ladhalaltum’: pasti kamu tersesat)

Dari Abul Ja’diy Ad-Dhamriy, ia adalah seorang sahabat, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan Jumat tiga kali karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 415)

Pertanyaan:

Sebenarnya sudah lama saya ingin menanyakan hukum meninggalkan sholat jum’at karena saya mempunyai temen yang tidak pernah melaksanakan sholat jum’at bertahun2 lamanya. Saya pernah mendengar kalau laki – laki tidak melaksanakan sholat jum’at lebih dari 3 kali maka dia dinyatakan murtad, apakah itu benar? apakah ada dalil Al-qur’an atau Hadist yang menyatakan hal itu?

Jawaban:

Bukan dinyatakan murtad, ya…..
Yang berhak menyatakan seseorang murtad hanyalah mahkamah, dan tentu saja…jika orang yang bersangkutan sendiri menyatakan dirinya keluar dari Islam.

Orang yang tidak melaksanakan sholat Jumat 3 kali berturut-2,
pada masa Rasulullah SAW dianggap memiliki sifat ala orang kafir,
atau dianggap memiliki karakter orang munafik.

Maklum aja… pada saat itu kondisinya Rasulullah SAW masih hidup,dan para sahabat hidup bersama Rasulullah SAW, dan hukum/syariah Islam diterapkan di masyarakat.

Ini hadits-2 nya:
Ibnu ‘Abbas r.a.: “Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut, sungguh dia telah mencampakkan Islam ke belakang punggungnya (kafir).” (HR Abu Ya’la, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib no. 732)

Dari Usamah bin Zaid r.a. dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali shalat Jum’at tanpa udzur (alasan yang sah), niscaya dia tercatat dalam golongan orang-orang munafik.” (Hadits shahih, termuat dalam Shahihul Jami’us Shaghir no: 6144 dan Thabrani dalam al-Kabir I: 170 no: 422).

“Hendaklah orang-orang itu benar-benar berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at, atau Allah benar-benar menutup rapat hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan menjadi orang-orang yang lalai.” (Hadits shahih dalam Shahih Shahihul Jami’us Shaghir hal 142 not 5 no: 548, Muslim II: 591 no: 865, Nasa’i III: 88)

Pertanyaan:

Saya pernah dengar bahwa org yg tdk sholat jum’at 3x adl trmsk munafiq nah bagaimana jika berada dinegri org kafir.. Ini prnh tjd pd teman saya wkt megkti training ke jepang selama 3 bln krn tmptny bkrja jauh dari masjid dan teman mrk hanya 3 org .lalu mrk mggnti dg sholat dhuhur? Bagaimana hkmnya tsb dan sbntr lagi giliran saya?

Jawaban :

Sebenarnya kewajiban shalat jumat itu sendiri baru ada kalau memenuhi syarat tertentu. Bila salah satu syarat itu tidak terpenuhi, maka tidak ada kewajiban untuk melakukan shalat jumat. Misalnya berkaitan dengan apa yang ada pada diri seseorang bisa saja membuatnya tidak wajib menjalankan shalat jumat, misalnya wanita, anak-anak yang belum baligh, orang sakit dan juga orang yang dalam perjalanan (safar).

Sedangkan yang terkait dengan kondisi lainnya misalnya adanya jumlah tertentu untuk bisa dilakukan shalat jumat. Khusus dalam masalah jumlah jamaah, memang para fuqaha berbeda pendapat. Ada yang mengatakan minimal jumlahnya 40 orang (kalangan syafii), namun ada juga yang mengatakan tidak harus sejumlah itu. Al-Hafiz mencatat paling tidak ada sekitar 15 pendapat yang berbeda dalam ketentuan masalah batas minimal jamaah jumat. Termasuk pendapat yang mengatakan bahwa boleh dilakukan walau hanya berdua saja, karena shalat jamaah itu minimal dilakukan oleh 2 orang (madzhab Hanafi)

Tentang tempat dilakukannya shalat jumat memang ada yang mengatakan harus di dalam masjid. Namun sebenarnya shalat jumat tetap syah dan bisa dilakukan di mana pun di dalam suatu gedung. Asal bukan lapangan terbuka. Kecuali bila lapangan terbuka itu merupakan luapan dari jamaah masjid atau gedung tertentu. Sebagaimana yang sering kita lihat di banyak tempat di negeri kita.

Masing-masing pendapat itu tentu punya latar belakang dan dasar yang kuat sehingga pendapat-pendapat itu berjalan abadi sepanjang masa.

Nah, terkait dengan kondisi yang Anda hadapi, di mana jumlah jamaahnya sangat sedikit, maka menurut jumhur kondisinya tidak memenuhi syarat melaksanakan shalat jumat. kalaupun mau mengambil pendapat madzhab Hanafi yang membolehkan shalat jumat dengan dua orang atau lebih, maka hal itu tetap bukanlah sebuah kewajiban karena shalat jumat menurut madzhab Hanafi hanya wajib di lakukan di negara dan pemerintahan Islam.

Karena itu, dalam kondisi semacam di atas Anda bisa menggantinya dengan shalat zhuhur.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*)dikutip dari berbagai sumber

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s