Merasakan Mukjizat Sholat sebagai Do’a

Posted: 12 Juli 2010 in Serba-Serbi Sholat
Tag:,

Dalam bahasa Arab, sholat bermakna doa, tetapi unsur sholat meliputi doa, pujian dan gerak. Dalam perspektif way of life seorang muslim, sholat adalah tugas hidup, bukan tujuan. Seperti halnya ibadah yang lain, sholat mempunyai aspek bentuk yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan aspek esensi yang merupakan makna sebenarnya dari ibadah. Pada tataran teori, sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Akan tetapi pada tataran praktek, sebagaimana juga ibadah lain, bisa saja sholat tidak bermakna apa-apa. Oleh karena itu seperti yang disebut al Qur’an, bagi orang-orang yang menjalankan sholat masih disediakan neraka Wail (wailun lil musallin, Q/107:4).

Pada orang tertentu, sholat masih dirasakan sebagai kewajiban, pada orang lain, mungkin sudah dirasakan sebagai kemestian, dan selanjutnya ada orang yang merasakan sholat sebagai kebutuhan, bahkan sebagai idaman yang menggairahkan. Bagi Nabi, sholat sejajar dengan hobi atau kegemaraan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya orang yang sudah maqamnya, yang dapat merasakan kemesraan hubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam “ruang” sholat seperti kemesraan sepasang kekasih.

Di dalam sholat orang yang maqamnya seperti itu terdapat nuansa komunikasi yang sangat intim sehingga seusai sholat wajahnya berseri-seri, hatinya tenteram dan sepanjang waktu rindu untuk kembali sholat. Bacaan dalam sholat berisi pujian dan doa yang sudah ditentukan, tetapi di dalam sholat boleh mengajukan permintaan lain diluar yang dibaca. Doa dalam sholat boleh diajukan dengan bahasa sendiri yang kita mengerti, karena orang yang berdoa memang harus mengerti apa yang diminta namun itu hanya boleh diungkapkan dalam hati saja.

Dalam struktur syari’at Islam, sholat merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh kaum mukmin (inna as salat kanat ‘ala al mu’minin kitaban mauquta,Q/4:103). Sebagai kewajiban yang bersifat sentral, sholat tidak cukup dikerjakan sekali-sekali, tetapi bersistem sepanjang hidup manusia. Oleh karena itu perintah sholat bukan untuk mengerjakan, tetapi mendirikan sholat (iqam as sholati), yakni mengerjakan dengan mengikuti sistemnya. Jika sholat dikerjakan dengan mengikuti sistemnya, maka ia akan berfungsi bagi yang mengerjakannya, seperti maksud syari’at sholat. Jika sholat hanya dikerjakan tanpa mengikuti sistemnya maka yang tertinggal hanyalah bentuk ritual sholat yang tidak relevan dengan fungsinya. sholat lima waktu merupakan tugas wajib, oleh karena itu ia tidak dimaksud untuk apa-apa selain mematuhi kewajiban.

Untuk mencari nilai plus hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, misalnya ingin dekat dengan Allah, maka itu bukan dengan sholat wajib, tetapi dengan sholat sunnat (nawafil).

Diantara fungsi sholat adalah (1) untuk berkomunikasi dengan Allah, (2) media zikir kepada Allah dan (3) untuk membangun kepribadian.

Komunikasi antara seorang manusia dengan Allah, bisa berupa permintaan (doa), pengaduan, konsultasi, bisa juga sebagai pelepas kerinduan. Sholat Istikharah misalnya adalah bentuk permintaan seorang manusia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberi kemampuan memilih (dipilihkan yang terbaik) dari pilihan-pilihan yang sulit.

Jawaban dari istikharah dapat diketahui melalui tiga jalan. (1) melalui isyarat naumiyyah, yakni isyarat mimpi yang melambangkan apa yang sebaiknya dipilih, (2) jawaban itu disampaikan melalui nasehat dan saran banyak orang, yang terasa sehat, masuk akal dan menyejukkan, dan (3) melalui ketajaman nurani dimana hati menjadi sangat yakin atas pilihannya meski boleh jadi ditentang oleh seluruh penduduk bumi.

Adapun jika seorang mukmin mempunyai permintaan khusus kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kepadanya dianjurkan untuk mengerjakan sholat hajat. Al Qur’an memang mengisyaratkan bahwa permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bisa dilakukan dengan sabar dan sholat, ista’i nu bi as sobri wa as salat. (Q/2:45, 153)

Jika orang mengerjakan sholat istikharah disebabkan karena kurang percaya diri dalam mengambil keputusan, maka sholat hajat dilakukan sehubungan dengan telah adanya keputusan yang diambil dan langkah yang sudah dimulai. Dalam keyakinan atas pilihan itulah orang bermohon agar apa yang diyakini telah diridai Allah itu terlaksana dengan baik.

Perhatikan kandungan doa sholat hajat seperti yang diajarkan oleh Rasul di bawah ini:

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Mulia. Maha Suci Allah, Pemilik ‘Arasy yang Agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku mohon kepada Mu hal-hal yang mendatangkan (a) rahmat Mu, (b) ampunan Mu, (c) perlindungan Mu dari dosa, (d) peluang meraih segala kebajikan dan (e) terbebas dari kesalahan. Ya Allah aku mohon kepada Mu, jangan Engkau biarkan dosaku tanpa Engkau ampuni, dan jangan Engkau biarkan kesulitanku, tanpa Engkau beri jalan ke luar, dan jangan Engkau biarkan hajatku yang telah Engkau ridai, tanpa Engkau kabulkan, wahai Tuhan yang Maha Pengasih.

ditulis oleh: agussyafii

sumber: http://chudrizal.blogspot.com/2010/02/mukjizat-sholat-sebagai-doa.html

Komentar
  1. Permadi Sugiharto mengatakan:

    Assalamu’alaikum…bknkah qt dperintahkan utk sholat sprti sholatny nabi?dan qt tdk diajarkan utk mminta dan menambahi bacaan2 sholat selain yg tlh diajarkan nabi?krna smua ddlm bacaan sholat tlh tertuang sgla kbtuhan guna hidup didunia,maupun diakherat kelak…tp brgkali berdoa stelah selesai sholat bs ditolerir,tlg dberi penjelasan dgn alasan dan dalilny,mgkin saya yg tdk berilmu ini blm tau tntg hal tsb..sblumny mohon maaf..Wassalam.

    • sholatyuk mengatakan:

      wa’alaikumussalam warah matullahi.. Terima kasih atas tanggapannya. Mungkin kita sama-sama keliru mengartikan do’a di dalam sholat, hanya saja maksud penulis bukanlah do’a dalam berbentuk lafal ketika sholat maksudnya adalah niat yg tersirat di dalam hati. semua bacaan rukun & sunah ataupun gerakan yg sdh dicontohkan Nabi wajiblah kita contoh tanpa menambahkan & mengurangi ataupun merubahnya. Jadi, maksud penulis adalah esensi kita sholat selain melaksanakan perintah mungkin bisa ditambah dengan motivasi akan kebutuhan menyampaikan keinginan kepada Allah swt melalui sholat, bukankah sholat artinya jg adalah do’a? memang untuk membuat sholat tulus Lillahita’ala menurut hemat penulis membutuhkan proses, dan langkah awal bagi org awam bisa ditambah dengan motivasi akan sesuatu seperti do’a, di dalam al-Qur’an Allah juga menyuruh & mecintai hambanya yg senantiasa berdo’a kepadaNya. Wallahualam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s